top of page

Silence - Menghadapi Keheningan Tuhan

  • Feb 10, 2022
  • 5 min read

Abad ke-17 bukanlah masa yang baik bagi penganut agama Kristen di Jepang. Pada masa itu, agama kristen dan segala aktivitasnya dilarang oleh pemerintah. Tidak hanya itu, para penganutnya dipaksa meninggalkan kepercayaannya, ditangkap, disiksa, bahkan dibunuh. Mereka dipaksa menginjak-injak fumie–lempengan tembaga sebagai simbol penyaliban yesus–untuk membuktikan ke murtadan mereka. Jika menolak. mereka akan dihukum gantung terbalik di air panas ataupun lubang selama berhari-hari.

Kejadian-kejadian tersebut digambarkan ulang oleh Shukaku Endo melalui novel karangannya, Silence. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1966 di Jepang dan diterjemahkan kedalam bahasa Inggris pada 1969 serta bahasa Indonesia pada tahun 2008. Salah satu karangan Shukaku Endo ini juga beberapa kali diadaptasi dalam bentuk film pada tahun 1971, 1996 dan 2016.


Andrew Garfeild sebagai Rodrigues dalam film Silence (2016)

Shukaku Endo sendiri adalah salah satu penulis terkenal di Jepang. Lahir di Manchuria pada 1923, Shukaku Endo mulai menulis pada 1955 dan telah meneribatkan 175 buku sepanjang hidupnya. Atas karyanya ini, Shukaku Endo pernah mendapatkan Tanizaki Prize pada tahun 1966.


Ulasan Awal

Buku yang saya baca adalah versi terjemahan bahasa Indonesia cetakan ketiga terbitan Gramedia yang diterjemahkan oleh Tanti Lesmana dari versi bahasa Inggrisnya. Silence menjadi salah satu buku dengan terjemahan terbaik yang pernah saya baca. Terjemahan yang ada tidak membuat buku ini kehilangan estetika sastranya.



Secara garis besar, Silence merupakan novel yang bagus dan worth it untuk dibaca. Walaupun akan terasa cepat di beberapa bagian, Silence memiliki plot yang rapi dan sederhana. Tidak ada plot yang memusingkan dan setiap kejadiannya tergambar dengan jelas. Penulis juga berhasil menyampaikan pesannya dengan baik melalui buku ini. Melalui kejadian-kejadian yang ada serta percakapan antara tokoh utama dengan tokoh lainnya, Endo berhasil menyampaikan pesannya tentang kemanusiaan, Tuhan, dan agama. Endo juga berhasil memainkan emosi pembaca melalui kejadian yang dialami oleh tokoh utama. Walaupun begitu, buku ini memliki point of view (POV) atau sudut pandang yang aneh. Yang dimaksud di sini adalah terjadi perubahan POV tanpa keterangan apapun sudut pandang orang pertama, menjadi sudut pandang orang ketiga, dan bahkan sudut pandang orang kedua. Jadi, mengapa buku ini layak untuk dikoleksi? Saya akan menjawabnya dalam pembahasan mengenai plot, karakter, serta world building yang disajikan. Akan ada spoiler di bagian plot, jadi spoiler warning.


Plot

Seperti yang saya tuliskan sebelumnya Silence memiliki plot yang cukup sederhana dan rapi. Kamu tidak perlu pusing memikirkan apa yang terjadi di dalam novel ini. Dengan kata lain, plot dalam cerita ini mengalir seperti air. Akan tetapi, di beberapa titik plotnya terasa lambat dan di titik lain terasa cepat.

Silence bercerita tentang tiga orang pastor muda yang hendak mengetahui kebenaran kabar guru mereka–Ferreira–yang murtad dan hilang karena mendapatkan siksaan di Jepang. Silence di awali oleh latar belakang terjadinya pelarangan agama Jepang. Penjelasan di sini cukup memberikan gambaran kepada kita terhadap apa yang terjadi di sana. Setelah mendapat kabar tentang kemurtadan gurunya, ketiga orang pastor ini–Sebastian Rodrigues, Francisco Garrpe, dan Juan de Santa Marta–berangkat ke Jepang secara diam-diam. Akan tetapi, Juan tidak bisa melanjutkan perjalanan karena terserang penyakit dan berakhir menetap di Macau. Di tempat itu juga mereka bertemu Kochijiro, seorang pemabuk aneh yang akan berperan penting dalam cerita.

Cerita ini membawa satu pertanyaan besar yang terus dibawa oleh karakter utamanya, yaitu mengapa Tuhan memilih diam. Telah terjadi berbagai pembantaian, penyiksaan, dan penangkapan terhadap umat kristen di Jepang, tetapi tidak ada respon apapun dari Tuhan. Pertanyaan tersebut terus muncul ketika tokoh utama kita melihat pengikutnya terbunuh, melihat para petani disiksa, melihat desa terbakar karena dirinya, mengalami penghkianatan, serta melihat rekan-rekannya terbunuh. Hal tersebut membuat tokoh utama buku ini bertanya-tanya, apakah Tuhan sengaja mendiamkan mereka? Mengapa Dia begitu hening? bahkan kejadian-kejadian tersebut membuatnya bertanya, apakah Tuhan benar-benar ada? Namun, ia memilih mengabaikan persaan tersebut. Ia terus meyakinkan diri bahwa tidak apa mereka mati karena akan mati sebagai martir–mati karena memperjuangkan kebenaran agama.


Photo by Paramount Picture
Rodrigues memimpin kegiatan keagamaan secara diam-diam

Dalam buku ini, Shukaku Endo berhasil membuat emosi pembaca naik turun mengikuti apa yang dihadapi tokoh-tokohnya. Misalnya saja, Rodrigues merasa bahwa akan ada masa depan cerah bagi kristen di Jepang sebelum mengetahui kenyataan bahwa desa tempatnya berlindung telah dicurigai oleh pemerintah. Juga ketika ia berhasil membangun kepercayaan pada Kochijiro tetapi pada akhirnya dikhianati juga.

Cerita di buku ini juga dibangun melalui percakapan antara Rodrigues dengan Inoue–otak dari penangkapan dan penyiksaan orang kristen Jepang. Dalam dialognya, mereka berdebat mengenai berbedaan agama buddha dengan kristen dan kesamaannya. Inoue terus mencoba meyakinkan Rodrigues bahwa tidak mungkin kristen bertahan di Jepang. Inoue begitu yakin dengan pendiriannya karena dia pernah belajar agama Kristen juga sebelumnya. Menurutnya, Kristen tidak cocok bagi masyarakat Jepang. Namun, Rodrigues terus menyangkal bahwa cinta kasih yang dibawa Kristen ke Jepang memberikan manfaat. Pada akhirnya, perdebatan mereka tidak menemukan titik temu. Rodrigues tidak mau menerima pandangan apapun dari Inoue.

Diceritakan juga akhirnya Rodrigues bertemu kembali dengan gurunya. Akan tetapi, orang itu sudah berganti identitas dan tidak seperti yang dikenalnya lagi. Mereka berdebat sama seperti ketika Rodrigues berdebat dengan Inoue. Di sini Fierra berusaha meyakinkan Rodrigues bahwa selama ini tindakan mereka membawa kristen ke Jepang adalah tindakan yang salah. Hal ini karena rakyat Jepang tidak benar-benar menyembah Tuhan yang sama seperti yang mereka sembah. Jepang memasukan berbagai unsur negeri mereka ke aktivitas agama kristen. Juga, kehadiran mereka–para pastor–hanya akan menambah korban jiwa dari umat kristen di Jepang.


Photo by Paramount Picture
Inoue dalam film Silence (2016)

Inoue juga melakukan penyiksaan kepada Rodrigues untuk membuatnya melepaskan keimanannya. Namun, penyiksaan ini tidak dilakukan secara langsung melainkan secara halus seperti memerlakukannya dengan baik lalu diakhiri dengan sebuah pengkhianatan luar biasa yang membuat Rodrigues hanya bisa berdiam diri dan merenungi semua hal yang telah dilewatinya. Pada akhirnya, Rodrigues disiksa secara langsung melalui arak-arakan keliling kota di mana dia ludahi, dilempari batu, dan dihina abis-abisan oleh penduduk Nagasaki. Saya sebaiknya tidak menceritakan ending buku ini karena lebih memuaskan jika membacanya lansung.

Cerita ini benar-benar menggambarkan kebimbangan yang dimiliki karakternya, baik tokoh utama maupun para penganut kristen yang lain. Haruskah mereka meninggalkan keimanan untuk bertahan hidup dan menyelamatkan orang lain? Apa yang terjadi jika selama ini kepercayaan mereka salah dan Tuhan yang selama ini mereka percaya tidak ada? Terlebih lagi mengapa Tuhan begitu hening di saat hambanya tidak berdaya sama sekali?

Kelemahan dari plot buku ini adalah kecepatan alurnya yang kurang konsisten. Terkadang ceritanya terasa begitu cepat, terkadang juga sebaliknya. Juga, perubahan POV yang sudah saya jelaskan sebelumnya membuat cerita ini terkesan aneh dan membingungkan. Hal ini karena terjadi tiba-tiba dan tidak ada keterangan yang jelas. Mungkin, itu bisa menjadi suatu keunikan, tetapi tetap saja mengganggu.


Character

Karakter di buku ini digambarkan dengan realistis dan manusiawi. Mereka pada awalnya memang memiliki idealisme tetapi mereka bukan Superman. Kita bisa bersimpati kepada apa yang dihadapi para karakternya. Akan tetapi, penggambaran karakter yang ada seringkali hanya berpusat pada Rodrigues. Penulis kurang mengeksplorasi karakter lain, misalnya Garrpe hanya digambarkan secera sederhan. Juga, penulis tidak mengeksplorasi karakter Kochijiro sehingga karakter tersebut tidak diketahui backstory-nya dan alasan sikap anehnya sepanjang cerita. Mungkin, penulis ingin membuat karakter yang memang “aneh aja”, tetapi tetap jika karakter tersebut lebih dieksplorasi kita bisa lebih mengetahui dan bersimpati dengannya.


World Building

Bagian ini merupakan salah satu bagian terbaik dalam buku ini. Buku ini menggambarkan dengan jelas bagaimana situasi di Jepang saat itu. Buku ini juga dengan jelas menggambarkan kehidupan masyarakat Jepang dan tingkah laku mereka. Juga, deskripsi yang diberikan cukup detail tetapi tidak membosankan. Jadi sebagai pembaca kita bisa membayangkan kondisi yang dihadapi para karakter.


Kesimpulan

Kesimpulannya, buku ini cukup worth it untuk dimasukan ke dalam koleksmu. Buku ini memiliki alur yang mudah dimengerti juga tidak terlalu panjang. Melalui buku ini kita dibawa mengarungi Jepang abad ke-17 yang lumayan kelam dengan world building-nya. Kekurangan yang ada tidak terlalu menganggu kita menikmati membaca buku ini. Jadi, apakah kamu mau baca Silence?









Comments


Post: Blog2_Post

©2019 by Orion Script. Proudly created with Wix.com

bottom of page